Review Jurnal
“Secondary analysis of qualitative data: a valuable method for exploring sensitive issues with an elusive population?”
By Tracy
Long-Sutehall
Penggunaan data sekunder dalam penilitian mengetahui metode
yang optimal untuk mengeksplorasi isu-isu sensitif populasi yang sulit dipahami
adalah untuk menjawab pertanyaan riset yang pernah diajukan sebelumnya yaitu
riset primer. Seperti dijelaskan oleh Corti dan Thompson bahwa data sekunder itu
dibutuhkan. Banyak periset yang tertarik dengan adanya penilitian yang
menggunakan data sekunder dengan tujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan pada
penilitian data primer yang tidak terjawab. Penelitian data sekunder membantu
pemecahan masalah dengan ide baru secara sosial berupa diskusi ataupun forum
pembahasan penilitian riset primer. Jurnal ini bermaksud untuk menjelaskan
proses penelitian data sekunder dengan tujuan agar dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan pada penelitian data primer dan membuat periset lain
mempertimbangkan penelitian ini. Jurnal ini juga mengajari periset yang
melakukan analisis sekunder dalam pengajuan analisis sekunder dan waktu dalam
mendapatkan persetujuannya, serta dapat melatih periset untuk membuat
penelitian yang baik dengan melakukan analisis sekunder pada data yang sudah
ada terlebih dahulu. Saat melakukan penilitian data sekunder atau analisis
sekunder perlu disertakan studi asli, proses pengumpulan data dan proses
analisis diterapkan pada data. Tujuan analisis sekunder harus transparan dan
pertimbangan etis harus dilakukan agar periset asli penilitian data primer
tidak merasa keberatan dengan analisis sekunder yang dilakukan, dengan
menyertakan data yang hilang dan alasan menggantinya, sehingga yang dijelaskan
dapat dimengerti dan sesuai dengan analisis primer.
Pada data
sebelumnya hal yang sudah dibahas tentang pemberitahuan dampak dari donor yang
dilakukan, melakukan pengecekan bagian tubuh atau organ mana yang tepat untuk
didonorkan, melakukan dukungan moral bagi pihak yang kehilangan, dan menerima
pendapat bagi pihak yang tidak setuju. Sementara pembahasan tentang sikap
dokter dan perawat untuk mengerti perasaan keluarga atau kerabat yang
kehilangan pendonor, menerima persepsi kerabat untuk memberi keputusan, memberi
tahu manfaat dan permasalahan pada donor yang berhasil dilakukan, serta
memberikan pemahaman tentang donor dan mengidentifikasi kebutuhan mereka.
Pertimbangan
etis dilakukan agar tidak ada kerahasiaan, perusakan data, dan harus tepat.
Pertanyaan antara analisis sekunder dan primer disesuaikan agar tidak keluar
dari pembahasan. Adapun kecukupan data harus dipertimbangkan dimana data dari
analisis primer sudah dinyatakan cukup maka analisis sekunder dapat dilakukan.
Analisis
sekunder memiliki potensi implikasi penting bagi para peneliti kualitatif yang
berusaha untuk menyelidiki topik-topik sensitif dalam kesehatan, tidak sedikit di
antaranya adalah kesempatan untuk memfasilitasi pelatihan peneliti semua tingkat.
Membuat dataset kualitatif yang sudah tersedia untuk analisis sekunder bisa
menjadi cara bagi para peneliti pemula untuk memperoleh keterampilan dalam
pengumpulan data, analisis data dan sintesis, serta bergulat dengan
epistemologis dan pertanyaan ontologis yang dihasilkan dengan menggunakan
metodologi ini. Pertanyaan-pertanyaan ini meliputi: (i) Apakah etis untuk
mengajukan pertanyaan penelitian sekunder yang Anda minta dari data primer? (ii)
Apakah ada cukup yang dikatakan dalam transkrip primer tentang topik yang
menarik sehingga akan masuk akal untuk mengasumsikan bahwa dataset utama? (V) Bagaimana pertanyaan epistemologis
mengenai konteks pengumpulan data ditangani? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu
dijawab sebelum menerapkan metodologi ini, meskipun analisis sekunder sepenuhnya
memanfaatkan analisis primer. Analisis sekunder dari dataset kualitatif cocok
untuk lebih detail dan pengembangan. Jurnal ini bertujuan untuk menawarkan
beberapa klarifikasi dari proses yang terlibat dan mendorong peneliti untuk
mempertimbangkan metodologi ini.

Komentar
Posting Komentar