Review Jurnal 2016
Judul
|
Artificial Immune System for Single Machine Scheduling and Batching in
a Supply Chain Scheduling Problem
|
Tahun
|
2016
|
Penulis
|
Morteza Rasti-Barzoki, Ali Kourank Beheshti & Seyed
Reza Hejazi
|
Reviewer
|
Salwa Fitria
|
Latar Belakang : Proses produksi pada
perusahaan biasanya mendapatkan masalah umum seperti delay dan biaya tambahan
tidak terduga diakibatkan adanya kerusakan pada mesin serta human error saat
produksi ataupun pendistribusian yang tidak terkontrol dengan mempertimbangkan
jumlah kendaraan, kapasitas kendaraan, dan konfigurasi mesin lain untuk
produksi. Dalam mengatasi masalah ini, penulis menyajikan Sistem Kekebalan
Buatan atau Artificial Immune System (AIS) yang diharapkan perusahaan-perusahaan
dapat mengoptimalkan waktu produksi maupun distribusi agar dapat memaksimalkan
fokus perusahaan pada kualitas produk.
Tujuan : Untuk meminimalkan waktu delay dan biaya
pada proses produksi maupun distribusi.
Metode : Memperhitungkan waktu
pendistribusian produk yang harus ditambahkan sebelum memproses pekerjaan pertama di setiap
batch. Menggunakan uji komputasi dengan algoritma metaheuristic dan
membandingkan metode AIS dengan metode yang ada untuk masalah yang disebutkan
dalam literatur, yaitu MINLP dan Simulation Annealing (SA).
Pembahasan : Banyak
periset mendapatkan masalah produksi seperti kasus diatas dalam meneliti waktu
yang optimal saat produksi maupun distribusi. Penulis menambahkan materi dengan
mempertimbangkan biaya dalam proses produksi maupun pengiriman. Steiner dan
Zhang membahas masalah yang sama, yaitu, masalah penjadwalan batching dan
pengiriman ke pelanggan, mengingat jumlah meminimalkan dari jumlah keterlambatan
pekerjaan dan biaya pengiriman pada mesin tunggal dengan waktu setup bets. Dengan memperhitungkan waktu polinomial
algoritma DP pseudo untuk solusi optimal. Dasgupta menjelaskan dalam proses
biologis, ketika sebuah kontak antigen dengan sistem kekebalan tubuh, ia
melepaskan satu set B-sel dengan fungsi mengidentifikasi dan menghilangkan
antigen. Dengan mengenali antigen tingkat afinitas rendah yang akan dipilih
untuk kloning. Sel mengalami hipermutasi somatik setelah proses kloning dalam
rangka untuk mencoba menghilangkan antigen. Tugas utama hipermutasi adalah membimbing ke arah optimal lokal. Adapun perhitungan yang dilakukan,
didapatkan persentase masalah yang muncul jika menggunakan metode MINLP sebesar
67,22% dibandingkan dengan AIS yang hanya 32.78%. Sementara untuk metode SA,
persentase masalah terbesar yang muncul pada metode ini sebesar 93,75%
dibandingkan dengan AIS yang terbesar hanya 26,04%.
Kesimpulan : Hasil perhitungan menunjukkan bahwa AIS
yang diusulkan lebih efisien daripada MINLP dan SA. Dengan mempertimbangkan
beberapa kendala seperti jumlah kendaraan dan kapasitas untuk setiap kendaraan,
konfigurasi mesin lain untuk produsen, seperti mesin paralel atau toko aliran,
metode pengiriman routing, bukannya mengarahkan metode pengiriman, dapat
disarankan untuk pekerjaan di masa depan. Selain itu, fungsi lain untuk total
biaya, seperti total tertimbang keterlambatan dan biaya pengiriman disarankan
juga.

Komentar
Posting Komentar